Semangat Tukang Cilok Yang Pantang Padam Meski Tanpa Gas

Wali Umat – Pagi itu hujan mengguyur cukup deras. Seorang kakek tertangkap kamera sedang menyalakan kompor berbahan minyak karosin—yang mungkin bagi sebagian orang tampak kuno. Di usia yang sudah renta, dengan tenaga yang tentu tak lagi sekuat muda, kakek ini tetap berkeliling menjajakan dagangan. Ia tak mengais belas kasihan, tapi menawarkan cilok hangat yang siap disantap siapa saja. Sebuah pemandangan yang membuat siapapun yang melihatnya tercekat: "Bagaimana bisa beliau tetap semangat di tengah keterbatasan seperti ini?"
Padahal, banyak orang hari ini mudah sekali menyerah. Baru menghadapi kesulitan kecil, lantas mengeluh panjang lebar, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan orang lain. Namun, lihatlahi kakek ini, tak nampak keluhan di wajahnya. Meski dengan alat sederhana, dia terus bergerak. Sambil sesekali tersenyum ramah kepada siapa saja yang ditemuinya, meski mungkin dagangannya tak selalu habis. Ada keteguhan yang memancar dari sorot matanya. Sebuah keteladanan tanpa banyak kata.
Kisah kakek penjual cilok ini menyadarkan kita, pada dasarnya setiap manusia punya pilihan: mau semakin tenggelam dengan mengeluh atau bergerak dengan ikhtiar terbaik. Di tengah realita hidup yang berat, beliau tidak sibuk menyalahkan takdir atau orang lain. Mungkin, dia tahu persis, mengeluh tidak akan membuatnya hidup. Yang bisa dia lakukan adalah terus berusaha. Sungguh, ini pelajaran mahal, terutama di zaman di mana orang sibuk mencari alasan untuk tidak berusaha.
Lebih dari itu, beliau mengajarkan pada kita arti 'menghidupkan harapan'. Dalam hujan yang basah, mungkin tubuhnya menggigil. Namun, jiwanya tetap hangat menyala. Seolah-olah dia ingin bilang, "Aku tetap bisa bertahan, selama Allah memberiku napas." Sebuah mentalitas pejuang, yang kadang terlupa di tengah hidup modern yang serba instan. Sebuah pesan bahwa "kerja keras tidak mengenal usia", selama niatnya benar.
Mungkin sebagian orang bertanya-tanya, "Kenapa sih masih pakai kompor minyak? Kan repot, mending gas!" Tapi mungkin, beliau bukan tidak tahu, atau tidak mau. Bisa jadi, keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu membeli kompor gas yang harganya lebih mahal. Namun, keterbatasan itu tidak menghalanginya untuk tetap berjualan. Di saat sebagian orang memilih diam dan mengeluh karena "tidak ada modal", kakek ini memilih untuk tidak berhenti.
Terlihat seorang kakek penjual cilok tengah berteduh karena hujan deras. Sumber: Tangkapan layar dari instagram wali_umat
Coba bandingkan dengan fenomena saat gas elpiji sempat langka beberapa waktu lalu. Bukannya mencari alternatif, banyak orang justru sibuk mengutuk keadaan. Misalnya saat terjadi kelangkaan gas melon di berbagai daerah, seperti diberitakan oleh Kompas.com. Kita memang boleh mengkritik pemerintah, tetapi jika hanya berujung pada keluhan tanpa aksi, maka dampaknya malah memperparah stres diri sendiri. Menurut teori “rumination” dalam psikologi klinis, terlalu banyak fokus pada masalah tanpa mencari solusi hanya akan memperburuk kecemasan dan depresi (Nolen-Hoeksema, 1991).
Keluhan terus-menerus juga dapat melemahkan mental. Dalam perspektif psikologi komunikasi, ketika seseorang terus mengulang keluhan, ia sedang menanamkan “self-talk negatif” yang menguatkan keyakinan bahwa dirinya memang korban keadaan. Akibatnya, ia makin tidak berdaya. Bandingkan dengan kakek cilok yang meskipun keterbatasan ada di depan mata, memilih “self-talk positif“ berupa aksi nyata: "Selama aku bisa, aku akan berjualan."
Dari kakek cilok ini, kita belajar bahwa bukan besarnya masalah yang menentukan apakah seseorang kuat atau tidak, tapi bagaimana dia meresponnya. Keterbatasan tidak harus jadi alasan untuk berhenti. Justru, keterbatasan bisa jadi 'pancingan' munculnya ide-ide kreatif—asal mau mengasah diri, bukan sibuk menyalahkan.
Bagaimana Seseorang Bisa Bangkit, Meski Berat?
Secara psikologi positif, apa yang dilakukan kakek ini adalah manifestasi dari resilience—kemampuan untuk tetap bertahan di tengah tekanan (Seligman, 2011). Orang yang tangguh adalah orang yang tahu dan menerima hidup memang penuh ujian sehingga ia selalu mencari cara untuk tetap melangkah. Orang seperti ini biasanya orang, yang dalam psikologi klinis, disebut memiliki “adaptive coping”, yakni strategi mengatasi masalah dengan cara-cara sehat dan produktif.
Dalam kacamata Islam, Allah Swt. mengajarkan bahwa kesulitan adalah bagian dari hidup. Dalam Qur’an, surat Al-Insyirah, Allah Swt. berfirman,
إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
"Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan"
Ayat ini mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan, pasti ada jalan keluar. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan,
"مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya (HR. Bukhari no. 5641)
Mengapa kakek ini bisa lepas dari belenggu masalah? Karena dia punya “growth mindset”, yakni keyakinan bahwa dirinya bisa berkembang walau dalam keterbatasan (Dweck, 2006). Seseorang yang punya growth mindset tidak fokus pada apa yang tidak dia punya, tapi fokus pada apa yang bisa dia lakukan. Dan inilah yang seringkali hilang dari sebagian orang: fokus pada keterbatasan, lupa pada potensi solusi.
Kakek penjual cilok tanpa gas tabung, namun "memilih" kompor minyak; tanpa mengeluh, terus berusaha. Sumber: tangkapan layar postingan instagram wali_umat
Setelah kita melihat dengan “kacamata”i psikologi positif, klinis, dan Islam, orang seperti kakek cilok ini telah menemukan hikmah dalam ujian hidupnya. Dia tidak menolak kenyataan, tapi juga tidak tunduk padanya. Sebaliknya, dia bersahabat dengan takdir hidup, sembari terus berusaha mengubahnya dengan ikhtiar.
Dari kakek penjual cilok ini, kita belajar arti keteguhan hati. Bahwa hidup memang penuh tantangan, tapi pilihan ada di tangan kita: mau berhenti atau terus melangkah?
Kalau kamu saat ini sedang menghadapi masalah—apapun itu—mungkin waktunya menata ulang cara pandang. Mungkin waktunya belajar dari kakek ini: diam tak mengubah keadaan, tapi langkah kecil bisa membuka jalan.
Jadi, yuk mulai belajar mengelola diri! Coba tuliskan hari ini, satu langkah kecil apa yang bisa kamu lakukan untuk bangkit? Jangan ragu untuk memulai, karena langkah pertama adalah kunci.
Jika kamu merasa butuh teman untuk diskusi, atau ingin belajar lebih banyak soal manajemen emosi dan ketahanan diri, jangan ragu untuk tinggalkan komentar atau DM saya. Kita belajar bareng, ya!
Karena, seperti kata pepatah: "Orang hebat bukan yang tak pernah jatuh, tapi yang selalu bangkit setiap kali jatuh."