• Language
    •  Indonesia
    •  English
    •  Arabic
Masuk Daftar
  • Home
  • Program
  • Donasi
  • Artikel
  • Tentang Kami

Ketika Banjir Mengambil Segalanya, Seorang Anak di Aceh Malah Meminta Al-Qur’an

Wali Umat - Banjir itu datang tanpa aba-aba. Air meluap, rumah-rumah terendam, dan kehidupan yang semula berjalan pelan tiba-tiba terhenti. Di tengah lumpur, puing, dan sisa-sisa harapan yang basah, kamera merekam satu momen yang tak biasa. Seorang anak korban banjir di Aceh tidak meminta makanan, tidak pula minuman. Ia hanya meminta satu hal: Al-Qur’an.

Permintaan itu terdengar sederhana, bahkan mungkin membingungkan bagi sebagian orang. Bukankah dalam kondisi seperti ini yang paling dibutuhkan adalah logistik? Bukankah perut kosong harus diisi lebih dulu? Namun justru di situlah letak pertanyaan yang menghantam batin kita: mengapa di saat kehilangan hampir segalanya, seorang anak memilih Al-qur’an sebagai yang paling ia butuhkan?

Kita hidup di zaman ketika kelaparan selalu dimaknai secara fisik. Ketika kekurangan selalu diukur dengan angka, kalori, dan statistik. Namun, video ini menyodorkan kenyataan lain: ada kelaparan yang tidak bisa diselesaikan dengan nasi dan air mineral. Ada kekosongan yang hanya bisa diisi oleh makna.

Anak itu berdiri di antara reruntuhan, membawa tubuh kecil yang sudah terlalu cepat belajar tentang kehilangan. Ia tidak menangis di depan kamera. Ia tidak meratap. Ia hanya menyebut satu permintaan dengan suara yang tenang. Justru ketenangan itulah yang mengguncang.

Barangkali, yang ia minta bukan sekadar mushaf. Barangkali yang ia cari adalah pegangan—sesuatu yang membuat dunia tetap masuk akal di tengah kekacauan. Di titik inilah, kita mulai bercermin.

Di dunia modern, kita diajari bahwa kebutuhan manusia bersifat hierarkis. Makan lebih penting daripada makna. Bertahan hidup lebih utama daripada bertanya “untuk apa hidup ini.” Namun, realitas di lapangan sering kali membantah teori yang terlalu kaku.

Psikolog Viktor Frankl, penyintas kamp konsentrasi Nazi dan pendiri logoterapi, menyebut bahwa manusia dapat bertahan dalam kondisi paling ekstrem bukan karena kekuatan fisik semata, tetapi karena ia memiliki makna untuk digenggam. Dalam situasi krisis, kebutuhan akan makna justru bisa menjadi yang paling mendesak.

Apa yang dilakukan anak korban banjir itu selaras dengan temuan tersebut. Ia tidak menolak bantuan fisik, tetapi ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih ia butuhkan untuk tetap utuh sebagai manusia. Ia mencari sandaran batin, bukan sekadar penyangga tubuh.

Al-Qur’an sendiri berbicara jelas tentang kebutuhan ini.

  أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ  

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini bukan sekadar kutipan religius. Ia adalah penjelasan psikologis dan spiritual tentang cara kerja manusia. Ketika dunia luar runtuh, hati membutuhkan sesuatu yang tidak ikut runtuh bersamanya.

Ironisnya, di sisi lain dunia—bahkan mungkin di sekitar kita—ada orang-orang yang hidup berkecukupan, tetapi tak pernah merasa cukup. Harta bertambah, tapi gelisah tidak berkurang. Rumah megah, tetapi jiwa terasa sempit. Video anak Aceh itu menjadi cermin yang memantulkan kontras yang menyakitkan.

Dalam sosiologi modern, fenomena ini dikenal sebagai relative deprivation—perasaan kekurangan yang tidak selalu berkorelasi dengan kondisi objektif. Manusia bisa “kekurangan” di tengah kelimpahan, dan sebaliknya, bisa “cukup” di tengah kehilangan.

Anak itu mungkin kehilangan banyak hal secara materi. Tetapi ia belum kehilangan orientasi hidupnya. Ia tahu ke mana harus kembali ketika segalanya tercerabut.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kaya jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini terasa hidup dalam sosok kecil itu. Ia tidak sedang memamerkan kesalehan. Ia hanya sedang bertahan dengan cara yang ia tahu.

Pertanyaannya kini beralih kepada kita. Di tengah rumah yang kering, perut yang kenyang, dan akses yang nyaris tak terbatas, apa yang sebenarnya paling kita cari? Dan mengapa sering kali jawabannya tidak pernah kita temukan?

Ketika Kehilangan Justru Menunjukkan Arah


Banjir adalah bencana. Tidak ada romantisasi di dalamnya. Ia merusak, menyakitkan, dan meninggalkan trauma. Al-Qur’an pun tidak menutup mata terhadap kenyataan pahit ini.


  وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَال 

Sungguh Kami akan menguji kalian dengan rasa takut, lapar, dan kekurangan harta. (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini bukan pembenaran atas penderitaan, melainkan pengakuan jujur bahwa hidup memang tidak steril dari kehilangan. Yang membedakan manusia bukanlah bebasnya ia dari ujian, melainkan bagaimana ia merespons ujian tersebut.

Anak itu tidak tahu teori ketahanan mental. Ia tidak membaca jurnal psikologi. Namun responsnya menunjukkan apa yang oleh para ahli disebut sebagai spiritual coping—kemampuan menggunakan keyakinan untuk mengelola stres dan trauma.

Di sinilah letak pelajaran besarnya bahwa iman, dalam bentuk paling sederhana, bisa menjadi alat bertahan hidup. Bahwa agama, ketika hadir sebagai rahmat, bukan beban, mampu menjaga manusia tetap manusiawi.

Kita terlalu sibuk menumpuk dunia, sampai lupa mengisi jiwa. Kita terlalu takut kekurangan harta, sampai tak sadar telah lama kekurangan makna.

Anak korban banjir itu tidak memberi ceramah. Ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia hanya meminta Al-Qur’an—dan dengan itu, tanpa sadar, ia menyampaikan pesan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

Kerakusan dunia tidak pernah lahir dari kekurangan, tetapi dari kekosongan batin. Tahukah kamu, manusia yang paling berbahaya bukan yang miskin, tetapi yang tak pernah puas?

Barangkali, yang perlu kita tanyakan setelah menonton video itu bukanlah, “Mengapa ia meminta Al-Qur’an?” melainkan, “Mengapa kita yang punya segalanya justru sering kehilangan arah?”

Di hadapan seorang anak yang kehilangan rumah, tetapi menemukan pegangan, kita dihadapkan pada pilihan yang jujur: terus mengejar dunia yang tak pernah selesai, atau mulai merawat jiwa yang selama ini kita abaikan.

Mungkin, itulah banjir yang paling perlu kita atasi—banjir keserakahan, banjir lupa diri, banjir dunia yang membuat hati kering, meski air melimpah di mana-mana.

Ketika bencana datang, yang tersisa bukanlah apa yang kita miliki—melainkan apa yang kita pegang di dalam hati.

Share This