Ibu Korban Banjir di Aceh Tetap Menjamu Tamu Walau Yang Tersisa, Nasi dengan Minyak Jelantah
Wali Umat — Dengan latar rumah-rumah yang tertimbun lumpur, seorang Ibu di Aceh masih saja menjamu “tamunya”. Tamunya itu istimewa karena mereka adalah para relawan yang kedatangannya adalah karena penggilan nurani membantu. Namun, mereka tetap menjadi “tamu”. Memang tidak ada bumbu lengkap, hanya nasi putih dengan minyak jelantah sebagai penanda rasa. Namun, dari sanalah lahir satu hal yang sering hilang ketika manusia diuji: keinginan untuk berbagi. Namun, kali ini, justru bukan karena ia berlebih.
Video itu singkat, namun mengandung pelajaran yang dalam. Seorang ibu korban banjir, yang seharusnya berhak menjadi penerima bantuan, justru memilih menjadi pemberi. Dalam kondisi serba terbatas, ia tetap menyodorkan nasi—makanan yang mungkin ia sendiri butuhkan. Ia tidak menunggu mapan untuk berbuat baik. Ia tidak menunggu aman untuk peduli. Ia hanya bergerak, karena nuraninya belum mati.
Di sinilah kita sering tercekat sebab realitas ini memukul wajah kita yang hidup jauh lebih nyaman. Banyak dari kita yang tidak kekurangan nasi, rumah pun tak kurang dari mewah, juga memiliki waktu luang —namun sangat berat mengulurkan tangan untuk berbagi. Kita menunggu “cukup”, padahal kata itu tidak pernah benar-benar datang. Ibu itu, dengan nasi dan minyak jelantahnya, seperti sedang bertanya tanpa suara: apa sebenarnya yang membuatmu kikir—kekurangan, atau ketakutan?
Banjir biasanya melahirkan dua wajah manusia. Yang pertama: wajah survival—menyelamatkan diri, keluarga, dan harta sebisanya. Yang kedua: wajah solidaritas—kesadaran bahwa penderitaan orang lain adalah panggilan moral. Ibu ini memilih wajah kedua. Padahal secara rasional, ia punya semua alasan untuk egois. Tapi justru di situlah kemanusiaan diuji: ketika memberi bukan lagi soal logika untung-rugi, melainkan keberanian melampaui diri sendiri.
Dalam Islam, tindakan ini bukan sekadar kebaikan personal. Ia adalah manifestasi iman yang hidup. Al-Qur’an menggambarkan manusia terbaik bukan mereka yang memberi dari kelimpahan, tetapi dari keterbatasan:
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesusahan.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat ini bukan romantisasi penderitaan. Ia adalah standar moral, kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya tetap memanusiakan orang lain, bahkan saat dirinya sendiri rapuh.
Rasulullah ﷺ pun mengajarkan logika yang bertolak belakang dengan naluri takut kita:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Hadis ini bukan sekadar janji spiritual, tapi koreksi cara pandang. Kita sering mengira berbagi akan membuat kita kekurangan. Padahal yang benar: yang membuat kita miskin adalah ketakutan kehilangan. Ibu itu mungkin tidak hafal teori ekonomi, tapi jiwanya memahami satu hukum kehidupan: rezeki bukan soal jumlah, tapi soal aliran.
Dari perspektif psikologi, apa yang dilakukan ibu ini dikenal sebagai prosocial behavior under scarcity—perilaku menolong yang justru muncul di tengah kelangkaan. Penelitian menunjukkan, orang yang mengalami penderitaan seringkali memiliki empati lebih tajam, karena ia tidak berjarak dengan rasa sakit orang lain. Ketika seseorang tahu rasanya lapar, ia lebih mudah berbagi makanan. Ketika seseorang tahu rasanya kehilangan, ia lebih mudah memahami.
Ironisnya, banyak studi juga menunjukkan hal sebaliknya pada kelompok yang berkelimpahan. Dalam psikologi sosial, ada fenomena yang disebut scarcity mindset semu—ketakutan kehilangan yang justru tumbuh di tengah kecukupan. Terlalu sering melihat berita korupsi, penipuan, dan ketidakadilan membuat orang membangun tembok defensif: “Kalau aku berbagi, aku yang rugi.” Akhirnya, kita tidak kekurangan harta, tapi kekurangan keberanian untuk percaya.
Di titik inilah, ibu korban banjir itu menjadi cermin yang tidak nyaman. Ia memantulkan satu pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri: apakah keterbatasan benar-benar penghalang untuk berbuat baik, atau justru alasan paling jujur untuk menunda? Dengan nasi dan minyak jelantahnya, ia seolah berkata: berbagi tidak menunggu sempurna—ia hanya menunggu hati yang masih hidup.
Jika kisah ibu korban banjir yang tetap berbagi itu terasa “terlalu luhur” untuk dunia hari ini, barangkali persoalannya bukan pada kisah itu—melainkan pada hati kita yang sudah terlalu sering dikecewakan. Kita hidup di zaman di mana empati sering terasa mahal, dan kepercayaan menjadi barang langka.
Banyak orang hari ini bukan tidak mau berbagi karena tidak punya. Mereka tidak mau berbagi karena pernah terluka. Pernah menolong lalu ditipu. Pernah memberi lalu dimanfaatkan. Atau terlalu sering menyaksikan cerita korupsi, manipulasi, dan kepura-puraan atas nama kemanusiaan.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai learned distrust—ketidakpercayaan yang terbentuk dari pengalaman buruk yang berulang. Otak manusia belajar dari rasa sakit. Ia mengingat luka lebih kuat daripada kenangan manis. Maka, menutup diri sering kali terasa lebih aman daripada kembali berharap.
Kita boleh mengakui: sikap itu manusiawi. Islam tidak pernah menuntut kita menjadi naif. Kehati-hatian bukan dosa. Melindungi diri bukan tanda kekurangan iman. Allah sendiri memerintahkan kebijaksanaan dalam bertindak, bukan kecerobohan dalam memberi.
Masalahnya muncul ketika kehati-hatian berubah menjadi alasan permanen untuk tidak peduli. Ketika satu pengalaman pahit dijadikan dalih untuk mematikan empati sepenuhnya. Di titik ini, kita tidak sedang menjaga diri—kita sedang mengeringkan hati.
Sosiologi menyebut fenomena ini sebagai compassion fatigue—kelelahan empati akibat terlalu sering terpapar penderitaan dan ketidakadilan. Ketika tragedi terasa tak ada habisnya, manusia berhenti merespons. Bukan karena tidak peduli, tapi karena terlalu lelah untuk merasa.
Namun Al-Qur’an menolak kita terjebak dalam mati rasa itu. Allah mengingatkan:
“Dan janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal.”
(QS. Al-Isra: 29)
Ayat ini tidak menyuruh kita menutup tangan, tapi juga tidak memerintahkan kita kehilangan akal. Yang diperintahkan adalah keseimbangan—bukan penarikan diri total dari kebaikan.
Di sinilah kisah ibu korban banjir itu menemukan maknanya. Ia bukan gambaran manusia yang hidup tanpa trauma. Ia adalah potret manusia yang memilih: meski dunia sering mengecewakan, aku tidak ingin ikut menjadi bagian dari ketidakpedulian.
Ia berbagi bukan karena yakin akan dibalas manusia. Ia berbagi karena ia menolak membiarkan penderitaan merampas satu-satunya harta yang masih ia miliki: kemanusiaannya sendiri.
Ketika Kebaikan Menjadi Pilihan Terakhir yang Justru Menyelamatkan
Dalam Islam, kebaikan tidak pernah diletakkan pada hasil, tetapi pada niat dan keberanian memilihnya. Allah tidak menjanjikan bahwa setiap kebaikan akan dibalas segera. Tapi Allah memastikan satu hal: tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang.
Allah berfirman:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7)
Ayat ini tidak menyebut kapan, tidak menjelaskan bagaimana. Tapi ia menegaskan kepastian: kebaikan selalu tercatat.
Ibu korban banjir itu mungkin tidak pernah berpikir tentang pahala. Ia hanya tahu satu hal: ada orang lain yang lebih lapar darinya saat itu. Dan dalam logika langit, keputusan sederhana seperti itulah yang bernilai besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) sepotong kurma.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini seolah berbicara langsung pada mereka yang merasa “tidak punya apa-apa untuk dibagi.” Bahkan sesuatu yang tampak remeh, jika lahir dari empati, memiliki bobot spiritual yang luar biasa.
Secara psikologis, memberi di tengah keterbatasan justru menguatkan makna hidup seseorang. Viktor Frankl, dalam teori logotherapy, menyebut bahwa manusia mampu bertahan dalam penderitaan selama ia menemukan makna. Dan salah satu makna terdalam adalah: menjadi berguna bagi orang lain.
Maka ibu itu tidak hanya sedang memberi nasi dengan minyak jelantah. Ia sedang mempertahankan martabatnya sebagai manusia. Ia menolak dikalahkan oleh keadaan. Ia menunjukkan bahwa kemiskinan tidak otomatis membunuh keluhuran.
Video ini bukan untuk membuat kita merasa bersalah. Ia hadir sebagai cermin. Bahwa di saat sebagian dari kita berat berbagi karena takut rugi, ada manusia yang hampir tak punya apa-apa—namun tetap memilih memberi. Dan mungkin, pelajaran terbesarnya sederhana: jangan biarkan dunia yang keras membuat hati kita ikut membatu.
Language
Indonesia
English
Arabic