Buah Qana’ah: Meringakan Sabar di Jalan Juang

Wali Umat – Dalam sebuah postingan TikTok Masjid Pemuda, diceritakan perjuangan seorang suami yang mengayuh sepeda selama satu jam, membonceng istrinya demi mendapatkan beberapa suap nasi. Bagi sebagian orang, makanan mungkin kesenangan, tetapi bagi mereka, sepiring nasi merupakan penegak tulang punggung.
Qadarullah, setelah mengayuh sepeda sekitar 21 km, tidak tersisa apapun kecuali nasi putih dan air. Tak ada lauk maupun sayur. Seketika, admin masjid meminta maaf karena tidak bisa memenuhi harapan mereka. Situasi seperti ini bisa membuat siapa pun kecewa, marah, bahkan menyerah pada keadaan.
“Sedih banget, bapak ini bela-belain tempuh perjalnaan 1 jam untuk ikut makan gratis, tapi ternyata kehabisan,” begitu cerita ini diawali oleh admin TikTok masjidpemuda.ind
Menariknya, tak ada ekspresi kekecewaan dari sang bapak. Dengan tenang, ia berkata, "Nggak papa, Mas. Alhamdulillah, kalau masih ada.” Sebuah jawaban sederhana yang sarat makna. Alih-alih membiarkan dirinya larut dalam kekecewaan, dia memalingkan pandangan dari apa yang luput darinya, tetapi bersyukur atas apa yang masih tersisa. Ketulusannya menusuk hati admin masjid, yang kemudian menuliskan kisah ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Pada akhirnya, Allah Swt. tidak membiarkan mereka pulang dengan perut kosong. Qadarullah, ada seseorang yang datang dan memberikan nasi kotak, menjawab hajat yang mereka bawa sepanjang perjalanan.
Ungkapan "Nggak papa" yang diucapkan bapak tersebut bukan sekadar kata-kata biasa. Itu adalah bukti bahwa beliau memiliki qana’ah, yakni merasa cukup dengan apa yang telah Allah tetapkan baginya. Lalu, ungkapan "Alhamdulillah" yang menyertainya mencerminkan syukur, yakni keyakinan bahwa Allah Swt. tidak pernah salah dalam menentukan rezeki hamba-Nya.
Dalam Islam, syukur dan qana’ah merupakan dua elemen yang mendatangkan ketenangan hati (thuma’ninah). Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa orang yang qana’ah akan memiliki jiwa yang stabil, tidak mudah gelisah, dan lebih mudah bersabar.
Psikologi positif pun mengamini hal ini. Martin Seligman, dalam risetnya, menunjukkan bahwa orang yang melatih rasa syukur mengalami peningkatan hormon serotonin dan dopamin—zat kimia yang memicu kebahagiaan. Sementara itu, dalam psikologi klinis, seseorang yang selalu fokus pada apa yang hilang akan lebih rentan mengalami stres dan depresi. Sang bapak pencari nasi adalah contoh nyata bagaimana sikap qana’ah dan syukur dapat mengubah keadaan yang pahit menjadi lebih ringan untuk dijalani.
Melihat banyak orang yang terjebak dalam pola pikir defisit—hanya melihat apa yang belum mereka miliki, bukan apa yang sudah ada di tangan mereka, kisah bapak ini bisa menjadi “air putih dalam kondisi dahaga”.
Sebuah studi dari Journal of Behavioral Decision Making menyebutkan, manusia cenderung lebih bereaksi terhadap kehilangan (loss aversion) dibandingkan dengan keuntungan. Ini disebabkan oleh ambisi yang tak terkendali dan ekspektasi yang terlalu tinggi. Selain itu, secara eksternal, ada tekanan sosial juga standar kesuksesan yang dibentuk media. Tak jarang, ketidakpuasan ini mendorong manusia kepada rasa iri, dengki, dan bahkan keputusasaan.
Dalam Islam, sikap ini dapat merusak spiritualitas seseorang. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda,
انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketidakpuasan berlebih juga berisiko terhadap kesehatan mental. Dalam psikologi klinis, kita dapat menemukan, mereka yang terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi. Dalam hal ini, sang bapak pemburu nasi bisa saja terjebak pada perilaku buruk ini, dia menuntut pada sang pengurus masjid agar menyediakan makanan mengingat dirinya yang sudah berusaha begitu keras, namun tak ia pilih.
Fokus Pada Yang Sudah Ada, Bukan Yang Baru Diinginkan
Jika kamu sedang berjuang keras, bekerja siang dan malam demi kehidupan yang lebih baik, tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan, ingatlah bahwa setiap rezeki telah ditakar oleh Allah. Seperti yang difirmankan dalam QS. Asy-Syura ayat 27
۞ وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ
"Dan jika Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, pasti mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran."
Dalam Al-Hikam, Ibnu Atha’illah berkata, "Jangan sampai tertundanya pemberian Allah membuatmu putus asa sebab Allah telah menjamin rezekimu pada waktu yang Dia tentukan, bukan waktu yang kau inginkan." Kemenangan dalam Islam bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi tentang hati yang ridha dan tenang dalam menerima ketentuan Allah. Seperti bapak pencari nasi, qana’ah tidak menghalangi usaha, tetapi menjadikan perjuangan terasa lebih ringan dan penuh harapan.
Toh pada akhirnya, bapak itu mendapatkan juga apa yang dibutuhkannya seolah Allah Swt. tidak ingin melihatnya pulang dengan rasa kecewa. Jika akhirnya akan dapat juga, betapa ruginya jika bapak itu meresponnya dengan marah-marah. Tentu sang pengurus Masjid pun akan keberatan dengan kedatangan bapak itu untuk kali berikutnya. Kisah ini adalah bukti bahwa rezeki akan datang tepat pada waktunya karena memang sudah tertakar, namun kesabaran akan menjadikannya lebih nikmat dan penuh berkah.
Kesuksesan sejati dalam Islam bukan sekadar memiliki banyak harta, tetapi hati yang mampu menerima dan bersyukur atas apa yang Allah berikan. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghazali, "Sabar tanpa qana’ah akan terasa menyakitkan, tetapi qana’ah tanpa sabar adalah mustahil." Dengan qana’ah, kita lebih mampu bersabar, dan dengan kesabaran, kesuksesan pasti menghampiri.
Hidup penuh perjuangan, dan setiap orang akan dihadapkan pada rupa ujian yang berbeda-beda. Jika hari ini belum sesuai dengan harapanmu, jangan putus asa. Belajarlah qana’ah, karena dengan itu, hatimu akan lebih tenang, langkahmu lebih ringan, dan kesuksesan akan lebih mudah diraih. Sabar itu berat, tetapi qana’ah akan membuatnya terasa lebih ringan.