Belajar Mawas Diri Dari Abah Penjual Kacang Koas

Wali Umat – Dagangannya ditawar dengan harga yang melampaui ekspektasinya, bukannya senang, seorang kakek penjual kacang koas malah ketakutan. Terlepas apapun faktor yang memicunya, reaksi kakek ini tetap menarik. Di tengah zaman di mana orang banyak yang “kehausan”, lazim jika seseorang senang mendapatkan uang. Mawas diri terhadap rasa pantas kian meluntur, padahal pekerjaannya “melantur”.
Seorang kakek tertangkap kamera sedang jualan kacang koas di pinggir jalan, tanpa meja, apalagi gerobak, hanya bermodalkan goodie bag merah dan hijau untuk membawa barang dagangannya. Ditanya oleh sang kreator konten (pemilik video) mengenai asal barangnya, rupanya ia hanya menjualkan dagangan milik orang lain. Kakek itu menghargai kacang koas Rp 6.000 perbungkusnya dan barangnya masih tersisa banyak lagi.
Dengan nada bercanda, sang kreator konten kemudian bertanya pada kakek untuk menawar harga dari yang ditawarkan. Tentu saja Kakek tersebut menolaknya, “Sudah pas,” kata kakek sambil mengibaskan tangannya tanda keberatan. Rupanya, maksud sang kreator konten bukan menawar dengan harga yang lebih rendah, melainkan dengan harga yang lebih tinggi.
“Kalau ditawar 300 (ribu) bisa?” tanya sang kreator konten.
Sontak penawaran tersebut mengagetkan si Kakek, “Wah terlalu banyak.. Nggak mau, takuut”. Walau akhirnya diterima, sang kakek tetap merasa khawatir. Sembari menerima uangnya, sang kakek masih mengatakan, “Ragu-ragu ini.. Takut.” setelah dikuatkan dengan mengatakan bahwa uang itu emang rezeki halal untuk si Kakek; “titipan”, barulah ia menerimanya
Pertanyaannya, kok bisa ekspresi pertamanya terhadap uang yang banyak itu malah rasa takut, bukan rasa senang atau gembira? Mungkin, kita dapat menemukan jika reaksi si kakek ini wajar, lantaran mungkin jarang mendapatkan atau mungkin melihat uang dengan jumlah terlalu besar. Terlepas dari apapun motifnya, menurut penulis, reaksi bapak ini merupakan salah satu cerminan dari adanya mawas diri.
Jika kakek itu adalah kepala keluarga, sepantasnya jika ia ingin memberikan yang terbaik pada keluarganya, bahkan ingin memberikan lebih walau kondisinya belum memungkinkan. Ketika ia mendapatkannya, sangat pantas jika kakek tersebut senang karena akhirnya bisa memenuhi apa yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Mungkin dia ingin memberi makan keluarganya sesekali sate ayam, namun karena belum mampu, dia baru bisa memberi makan keluarganya sebutir telur dibagi empat sekali makan. Sepantasnya, ia senang ketika akhirnya bisa memberikan keluarganya apa yang diinginkan selama ini bukan?
Namun, jika seseorang terbiasa mawas diri, dia tidak akan menerima pemberian orang semena-mena. Orang yang terbiasa mawas diri, dia akan menimbang, apakah harta tersebut memang layak buat dirinya atau tidak? Sisi spiritualnya menyeadari kalau setiap apa yang ia dapatkan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Pun, ketika masuk ke dalam perut, dia sadar, akan ada dampak negatif jika ternyata yang dimasukkan ialah uang haram, misalnya.
Pentingnya Mawas Diri di Zaman “Kehausan”
Mawas diri adalah proses introspeksi atau refleksi mendalam terhadap diri sendiri. Ini melibatkan evaluasi atas pikiran, perasaan, dan perilaku kita guna mengenali kekuatan, kelemahan, dan kesalahan yang mungkin telah kita lakukan. Dalam konteks spiritual Islam, sikap mawas diri dikenal dengan istilah muhasabah, yakni perhitungan diri sebelum mempertanggungjawabkan segala sesuatu di hadapan Allah SWT. Dalam Qur’an, surat Al Hasyr ayat 18, Allah Swt. berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kakek penjual kacang koas tersebut mungkin memahami bahwa setiap rezeki yang diperoleh haruslah bersih dan sesuai haknya. Ia tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan haknya atau menerima sesuatu yang dirasa berlebihan. Sikap ini mencerminkan sebuah prinsip penting dalam Islam: tahu rasa, yakni kesadaran tentang apa yang pantas dan tidak pantas bagi diri sendiri.
Secara psikologis, mawas diri adalah kemampuan untuk mengenali diri sendiri—kekuatan, kelemahan, serta batasan diri. Dalam dunia yang serba cepat ini, banyak orang terjebak dalam budaya konsumtif, tergoda oleh gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Konsep Social Influence Theory yang dikemukakan oleh Jonah Berger dalam bukunya Contagious menjelaskan bahwa manusia sering kali terdorong untuk meniru perilaku orang lain, terutama ketika melihat sesuatu yang dianggap bernilai atau sedang tren.
Akibatnya, banyak yang kehilangan kendali atas keputusan finansial mereka. Misalnya, seseorang yang melihat influencer memamerkan barang mewah cenderung terdorong untuk mengikuti, meskipun hal tersebut di luar kemampuannya. Sikap impulsif ini akhirnya menjerumuskan banyak orang ke dalam utang atau gaya hidup boros.
Contohnya adalah ketika seseorang membeli sepatu baru sebulan sekali, gegara dia tergiur oleh influencer (pemengaruh) yang dikaguminya. Setiap pemengaruh endorse barang, dia tergiur, kemudian berupaya membelinya. Bahkan, mungkin, saking sudah “ngiler”, dia tak berpikir panjang menggunakan “pay later”. Padahal, bisa jadi, sepatu-sepatunya takkan ia pakai ketika sudah tiba di rumahnya, kecuali hanya beberapa kali saja alias mubazir.
Namun, hal itu tidak akan terjadi pada orang yang memiliki kesadaran mawas diri. Dia akan berpikir ulang sebelum mengambil keputusan. Mereka tidak akan mudah terjebak dalam jebakan konsumtif atau menerima sesuatu yang bukan haknya. Inilah yang ditunjukkan oleh si kakek: ia sadar bahwa uang yang ia terima harus sesuai dengan harga yang pantas.
Mawas diri berperan penting dalam membantu seseorang untuk menyadari kelebihan, kekurangan, serta batasan diri. Dengan rutin melakukan introspeksi, seseorang akan lebih peka terhadap keadaan batin dan kondisi dirinya sehingga terbentuklah pemahaman tentang apa yang pantas atau layak didapatkan. Kesadaran ini sejalan dengan konsep "tahu rasa," yaitu kemampuan untuk menilai dengan tepat apakah kita berhak mendapatkan sesuatu berdasarkan kondisi dan usaha yang telah kita lakukan.
Selain itu, melalui mawas diri, seseorang tidak hanya mengevaluasi diri secara internal, tetapi juga memahami peran dan tanggung jawabnya dalam konteks sosial. Pemahaman ini mendorong individu untuk tidak berlebihan dalam menuntut atau mengharapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Sehingga, proses mawas diri dapat memperkuat nilai-nilai etika dan keadilan, sehingga "tahu rasa" dalam menerima dan menginginkan sesuatu menjadi lebih proporsional dan seimbang.
Misal, ketika seseorang menerima “serangan fajar” berupa uang atau apapun, dia rela menerimanya dan akhirnya terpaksa mencoblos calon pemimpin negara. Dia menerimanya, tanpa mempertimbangkan kemungkinan dia akan menderita selama, minimal, lima tahun. Dia mungkin belum tahu, kalau seorang politisi yang menggunakan politik uang, tentu ia ingin balik modal. Untuk “balik modal” tentu gaji dan tunjangan selama menjabat tidak akan mencukupinya. Itupun kalau terpilih. Kalau tidak terpilih karena kurang secara angka pemilihnya, tak menutup kemungkinan yang bersangkutan akan menagihnya kembali.
Selain itu, dengan mawas diri, seseorang tidak hanya mengevaluasi diri secara internal, tetapi juga memahami peran dan tanggung jawabnya dalam konteks sosial. Pemahaman ini mendorong individu untuk tidak berlebihan dalam menuntut atau mengharapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Sehingga, proses mawas diri dapat memperkuat nilai-nilai etika dan keadilan, sehingga "tahu rasa" dalam menerima dan menginginkan sesuatu menjadi lebih proporsional dan seimbang.
Contohnya adalah dalam konteks jabatan, baik di pemerintahan maupun di swasta. Ketika seseorang terbiasa mawas diri, dia akan sadar kalau dirinya hanya hamba Allah Swt., dia akan sadar kalau posisinya hari ini tak lepas dari adanya masyarakat yang memilihnya atau ada anak buah yang membantu di belakangnya. Karena itu, akan muncul kesadaran, kalau posisinya hari ini adalah amanah dan akan dipertanggungjawabkan sehingga dia sangat berhati-hati menggunakan fasilitas atau jabatannya. Tentu, dia akan jauh dari korupsi karena rasa takutnya terhadap konsekuensinya, baik di dunia maupun di akhirat.
Mawas diri bukan sekadar refleksi diri, tetapi juga benteng yang melindungi seseorang dari godaan dunia. Seperti yang ditunjukkan oleh kakek penjual kacang koas, ia memiliki rem moral yang membuatnya berhati-hati dalam menerima rezeki. Sebelum mengambil keputusan, ia menimbang apakah hal tersebut benar-benar haknya atau sekadar ujian dari Allah Swt.
Jika kita ingin membangun mental yang lebih kuat dan tidak mudah tergoda oleh hal-hal duniawi, kita perlu membiasakan diri dengan sikap mawas diri. Dengan begitu, kita dapat hidup lebih tenang, terhindar dari kesalahan fatal, dan lebih siap untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu di hadapan Allah Swt.
Sebagaimana nasihat dari Umar bin Khattab:
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang."
Kisah kakek penjual kacang koas ini bukan sekadar cerita viral, tetapi sebuah pengingat bahwa dalam hidup, tidak semua hal harus diterima begitu saja. Ada kalanya, menolak sesuatu yang berlebihan justru menjadi bentuk ketakwaan dan kebijaksanaan tertinggi.