• Language
    •  Indonesia
    •  English
    •  Arabic
Masuk Daftar
  • Home
  • Program
  • Donasi
  • Artikel
  • Tentang Kami

Meski Pas-Pasan, Pak Daliyo Tetap Meminjamkan Uangnya Hingga Kebaikan Itu Kembali Padanya

Wali Umat – Sepeda onthel tua itu bergerak pelan di antara lalu lintas yang riuh. Di atasnya, nasi dan lauk sederhana tersusun rapi, dijaga oleh tangan renta yang sudah terlalu sering bekerja tanpa banyak istirahat. Bapak itu dikenal dengan nama Pak Daliyo, seorang penjual nasi rames yang hidupnya jauh dari kata berlebih. Tak ada spanduk besar, tak ada promosi, hanya ketekunan yang setiap hari ia bawa keluar rumah.

Suatu hari, tanpa banyak aba-aba, dagangan Pak Daliyo diborong habis oleh seseorang yang lewat. Bukan karena nasi itu istimewa, bukan pula karena harganya murah. Orang itu tahu satu hal: Pak daliyo adalah sosok yang sering membantu orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri hidup pas-pasan. Hari itu, kebaikan yang selama ini berjalan diam-diam, seakan pulang kembali ke pemiliknya.

Pak Daliyo bukan orang yang suka bercerita tentang kebaikannya. Walau hidupnya masih pas-pasan, dia mampu menerima saat ada orang yang kasbon tanpa mampu membayar pada akhirnya. Namun ia tetap menjalani harinya seperti biasa, seolah kehilangan itu bukan sesuatu yang layak diratapi.

Ia tahu hidupnya sederhana. Berjualan nasi dengan sepeda tua bukan jalan cepat menuju sejahtera. Namun, bagi Pak Daliyo, memberi bukan soal kelapangan harta, melainkan kelapangan hati. Ia memilih menolong bukan karena yakin akan dibalas, melainkan karena ia tahu bagaimana rasanya berada di posisi membutuhkan.

Ketika dagangannya diborong, Pak Daliyo tampak terkejut. Bukan terkejut karena uang, tapi karena perhatian. Ada momen di mana seseorang merasa dilihat, dihargai, dan diingat. Di situlah kebaikan menemukan maknanya yang paling sunyi.

Banyak orang percaya bahwa kebaikan akan kembali. Namun, tidak semua orang berani mempraktikkannya. Sebab hidup hari ini tidak selalu ramah pada mereka yang terlalu tulus. Dunia sering memberi pelajaran pahit pada orang-orang yang terlalu mudah percaya.

Kisah Pak Daliyo terasa hangat justru karena ia langka. Di tengah dunia yang makin perhitungan, masih ada orang yang memilih memberi tanpa kalkulator. Dan di titik inilah kita mulai bercermin, bukan untuk menghakimi diri sendiri, tapi untuk memahami mengapa sikap seperti ini terasa semakin asing.

Ketika Dunia Mengajarkan Kita untuk Menutup Hati

Hari ini, banyak orang sulit meminjamkan uang, bahkan pada orang terdekat. Bukan karena kikir, tapi karena lelah. Terlalu banyak cerita tentang kebaikan yang dibalas pengkhianatan. Terlalu sering mendengar orang baik yang dimanfaatkan lalu ditinggalkan.

Sikap hati-hati itu wajar. Ia bukan tanda kurang empati, melainkan bentuk perlindungan diri. Ketika seseorang pernah ditipu atau dikecewakan, otaknya belajar untuk membangun pagar. Ini bukan kelemahan moral, tapi respon manusiawi.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai trust erosion, terkikisnya kepercayaan akibat pengalaman buruk yang berulang. Orang menjadi selektif, curiga, dan enggan membuka diri. Bukan karena ingin jahat, tapi karena tak ingin terluka lagi.

Ada pula negativity bias, kecenderungan otak manusia untuk mengingat pengalaman buruk lebih kuat daripada pengalaman baik. Satu penipuan bisa menghapus sepuluh kebaikan di ingatan. Ditambah derasnya konten penipuan, korupsi, dan manipulasi di media, dunia terasa seperti tempat yang tidak aman untuk percaya.

Belum lagi moral fatigue, kelelahan menjadi orang baik. Banyak yang merasa, kejujuran tidak membawa kemudahan, justru kerugian. Dari sinilah lahir sikap sinis yang diam-diam tumbuh di banyak hati.

Maka ketika seseorang memilih untuk berhati-hati, itu bukan sesuatu yang pantas dicela. Tidak semua orang harus seperti Pak Daliyo. Tidak semua orang punya kekuatan batin untuk terus memberi tanpa jaminan. Validasi ini penting, agar kebaikan tidak berubah menjadi tekanan moral.

Namun, ada pertanyaan yang pelan-pelan perlu kita jawab. Jika semua orang memilih menutup diri, siapa yang tersisa untuk menjaga wajah kemanusiaan? Jika semua orang berhenti percaya, apa yang akan menjadi pengikat sosial kita?

Di titik inilah kisah Pak Daliyo menemukan maknanya. Ia bukan standar yang memaksa, melainkan cermin yang menawarkan pilihan. Ia tahu risiko memberi, tapi tetap melakukannya. Kebaikannya bukan lahir dari naivitas, melainkan dari keberanian untuk tetap manusiawi.

Pak Daliyo tidak sedang menantang dunia. Ia hanya memilih tidak ikut menjadi keras. Ia mungkin rugi secara materi, tapi ia menjaga sesuatu yang lebih mahal: kelapangan jiwa. Allah punya cara tersendiri, entah bagaimana caranya, membalas itu pada waktu yang tidak ia duga.

Kebaikan memang tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama. Kadang ia kembali sebagai uang, kadang sebagai perhatian, kadang hanya sebagai penguat batin di hari yang melelahkan. Namun, ia jarang benar-benar hilang. Ia hanya berpindah jalan.

Di sisi lain, kita hidup di masyarakat yang semakin perhitungan. Banyak orang takut memberi karena takut dimanfaatkan. Banyak pula yang sebenarnya mampu, tapi memilih menahan diri. Sikap ini bisa dimengerti, tapi perlu terus disadari agar tidak berubah menjadi mati rasa.

Mungkin yang perlu kita lakukan bukan memaksa diri menjadi sebaik Pak Daliyo, melainkan jujur pada diri sendiri. Di titik mana kita mulai berhenti percaya? Luka apa yang belum selesai kita terima? Pertanyaan ini lebih penting daripada sekadar meniru tindakan.

Kebaikan tidak selalu berupa uang. Kadang ia hadir dalam bentuk mendengarkan, menemani, atau membantu sebisanya. Yang terpenting adalah menjaga ruang empati agar tidak sepenuhnya tertutup. Sebab dunia ini sudah cukup keras tanpa kita menambahnya.

Pak Daliyo mengajarkan bahwa kebaikan tidak harus spektakuler. Ia tidak viral setiap hari, tidak dielu-elukan. Ia hanya konsisten, dan justru di situlah kekuatannya. Dunia sering berubah oleh orang-orang seperti ini, bukan oleh slogan besar.

Pada akhirnya, kebaikan bukan tentang hasil, tapi tentang pilihan. Ia adalah keputusan untuk tetap lembut di tengah kerasnya hidup.  Pak Daliyo, dengan segala keterbatasannya, memilih jalan itu.

Mungkin kita tidak selalu bisa seperti Pak Daliyo. Tapi kita selalu bisa bertanya pada diri sendiri: di dunia yang sering mengecewakan ini, kebaikan apa yang masih ingin kita jaga agar kita tidak kehilangan kemanusiaan kita sendiri?


Share This